Selasa, 26 Desember 2017

materi akidah akhlak kelas 6 (tanggung jawab, adil, dan bijaksana)

1. Pengertian, dalil, manfaat dan contoh tanggung jawab
a. Pengertian tanggung jawab
Tanggung jawab adalah berkewajiban menanggung, memikul, menanggung segala sesuatunya dan menanggung akibatnya. Tanggung jawab merupakan kesadaran manusia terhadap tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja.  Tanggung jawab merupakan perwujudan dari sifat amanah, artinya dapat dipercaya. Sehingga tanggung jawab bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian hidup manusia bahwa setiap manusia di bebani dengan tangung jawab. Tanggung jawab adalah kewajiban yang harus dilakukan sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukan.
Tanggung jawab menjadi ciri manusia yang beradab. Manusia harus
bertanggung jawab karena menyadari akibat baik atau buruk dari perbuatannya.
Sikap tanggung jawab harus dibiasakan setiap hari dengan cara:
a. Selalu ingat kepada Allah bahwa segala perbuatan yang dilakukan di dunia
akan dimintai pertanggungjawaban
b. Menyadari betapa beratnya amanah yang diberikan kepada manusia
c. Menyadari akibat buruk yang timbul dari sikap tidak bertanggung jawab
d. Berani mengakui kekurangan sendiri
e. Siap menerima resiko apapun dari kesalahan yang dilakukan
b. Dalil tanggung jawab
Agama Islam memerintahkan kepada manusia agar bertanggung jawab
terhadap perbuatannya. Bahkan Allah-pun akan meminta pertanggungjawaban
kepada setiap manusia kelak pada hari kiamat terhadap apa yang dilakukan
selama hidup di dunia. Allah Swt. berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ بِماَ كَسَبَتْ رَ هِيْنَةٌ(74 )




Artinya: Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, (QS. al-
Muddatstsir [74]:38).
c. Manfaat tanggung jawab
Sikap tanggung jawab dapat memberikan manfaat kepada pelakunya,
antara lain;
1. Dipercaya orang lain
Semakin bertanggung jawab seseorang, maka semakin banyak manusia
percaya pada dirinya. Sebaliknya semakin manusia lari dari tanggung
jawab orang lain tidak percaya kepada dirinya.
2. Menjadi manusia yang berguna
Dengan tanggung jawab, banyak manusia percaya kepada dirinya. Dan
semakin banyak orang percaya maka semakin bermanfaat dirinya kepada
orang lain. Ini termasuk ciri manusia yang terbaik, sebagaimana Nabi
Muhammad saw. bersabda;
خَيرُ  النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ (رواه البخارى ومسلم)
Artinya: Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak memberi
manfaat bagi orang lain (HR.Bukhari dan Muslim).
3. Memperoleh pahala dari Allah Swt.
Karena tanggung jawab merupakan perintah dari Allah Swt., maka
manusia yang melakukan akan memperoleh pahala dari Allah Swt. Berapa  banyak pahala yang diterima oleh manusia? Tentu akan sesuai dengan
besar atau kecilnya tanggung jawab yang diembannya.
d. Contoh tanggung jawab
Ada beberapa contoh tanggung jawab. Kalian pasti pernah melakukan.
Apakah itu? Coba ingat kembali, misalnya ada seorang anak kecil yang
bermain dengan alat-alat permainannya. Setelah selesai bermain, ia diminta
oleh orang tua agar menata dan mengembalikan alat-alat bermain di tempat
semula. Ketika ada seorang teman kalian meminjam buku perpustakaan,
setelah habis batas waktu harus dikembalikan, atau ketika menggunakan
buku perpustakaan ada halaman-halaman yang sobek maka ia menggantinya,
dan masih banyak lainnya. Ini semua merupakan contoh tanggung jawab.
2. Pengertian, dalil, manfaat dan contoh sifat adil
a. Pengertian adil
Adil berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah,
jujur, lurus dan tulus. Menurut istilah adil berarti suatu sikap yang bebas dari
ketidakjujuran. Dengan demikian orang yang adil adalah orang yang berbuat
sesuai aturan hukum baik hukum agama, hukum positif (hukum negara) maupun
hukum sosial (hukum adat) yang berlaku. Allah Swt. memerintah manusia
beقsikap adil, sebagaimana firman Allah Swt.
اِنَّ اللهَ يِحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
Artinya: Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil (QS. Al
Hujurat [49]: 9).
Orang yang adil selalu bersikap netral, artinya sikap yang tidak memihak,
kecuali kepada kebenaran. Bukan berpihak karena pertemanan, persamaan
suku, bangsa maupun agama. Keterpihakan kepada sesuatu yang tidak benar
dilarang oleh ajaran Islam. Allah Swt. menegaskan bahwa kebencian terhadap
suatu golongan, atau individu, janganlah menjadi pendorong untuk bertindak
tidak adil.
Mengapa Islam menganggap sikap adil sangat penting ? Salah satu tujuan
utama Islam adalah membentuk masyarakat yang menyelamatkan, yang
membawa rahmat kepada seluruh alam semesta dengan makna: Pertama,
seorang muslim harus bersikap adil dan jujur kepada diri sendiri, kerabat
dekat, kaya dan miskin. Penilaian, kesaksian dan keputusan hukum hendaknya
berdasarkan kepada kebenaran walaupun kepada diri sendiri.
Kedua, keadilan adalah milik seluruh umat manusia tanpa memandang suku,
agama, status jabatan ataupun tingkatan sosial. Oleh karena itu seorang muslim
wajib menegakkan keadilan hukum dalam posisi apapun, baik sebagai hakim,
jaksa, polisi maupun saksi.
Ketiga, di bidang yang selain persoalan hukum, keadilan bermakna bahwa
seorang muslim harus dapat membuat penilaian apa adanya dan kritis kepada
siapapun. Mengakui adanya kebenaran, kebaikan dan hal-hal positif yang
dimiliki kalangan lain yang berbeda agama, suku dan bangsa dan dengan lapang
dada membuka diri untuk belajar secara bijaksana.
b. Dalil tentang adil
Umat Islam wajib mencontoh sikap adil Rasulullah saw. Tekad Rasulullah
Saw. terhadap keadilan, sebagaimana dalam ungkapan beliau :
Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka akan aku potong
tangannya (HR. Muslim)
c. Manfaat adil
Seseorang yang bersikap adil akan mendatangkan banyak manfaat, antara
lain:
1) Mendatangkan rida Allah
2) Memperoleh keberhasilan dalam hidup
3) Memperoleh kegembiraan batin
4) Disenangi banyak orang
5) Memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat
6) Terwujud masyarakat yang aman, tenteram, dan damai
d. Contoh adil
Banyak sekali contoh adil yang terjadi di sekitar kita. Tahukah kalian
dalam hal itu? Masih ingatkah kalian ketika ada teman membuang sampah di
sembarang tempat, kemudian ditegur oleh bapak atau ibu guru agar diambil
dan dibuang di tempat sampah? Itu adalah bagian dari contoh adil. Karena
adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya.
3. Pengertian, dalil, manfaat dan contoh sifat bijaksana
a. Pengertian bijaksana
Bijaksana artinya selalu menggunakan akal budinya dengan berdasarkan
pengalaman dan pengetahuannya, arif, atau tajam pikiran. Bijaksana dapat
berarti pandai dan hati-hati, cermat, teliti, dan sebagainya. Bijaksana adalah
suatu kecakapan menggunakan akal budinya apabila menghadapi kesulitan.
Bijaksana dapat pula diartikan menyelesaikan masalah berdasarkan kebenaran
dan tidak hanya mengikuti keinginan hawa nafsu saja.
Umat Islam diperintahkan oleh Allah Swt. agar bersifat bijaksana. Artinya
ketika hendak melakukan sesuatu dipikirkan terlebih dahulu dengan cermat
agar tidak terjerumus kepada kesalahan. Karena itu, umat Islam tidak boleh
bersifat tergesa-gesa karena tergesa-gesa itu perbuatan setan. Dan setan
selalu mendorong manusia untuk berbuat buruk. Sehingga setan menjadi
musuh bagi manusia. Firman Allah Swt.
اِنَّالشَّيْطَانَ للك نسا ن عد و مبي انِ
Artinya: Sesungguhnya setan terhadap manusia musuh yang nyata (QS. Yusuf [12]:
5).
Cara untuk bersikap bijaksana dalam kehidupan sehari-hari dapat dilatih
dan ditumbuhkan melalui:
1) Perenungan dengan upaya mengerti dan menghayati pentingnya sikap
bijaksana
2) Meniru dari contoh sikap bijaksana yang dilakukan oleh nabi Muhammad
saw., seperti: sikap nabi ketika mengembalikan Hajar Aswad ke tempat
semula.
3) Mengamalkan dan membiasakan dalam kehidupan sehari-hari
b. Manfaat sifat bijaksana
Umat Islam yang memiliki sikap bijaksana, akan memperoleh manfaat
yang banyak sekali, antara lain:
1) Dapat terlaksana suatu undang-undang, karena orang yang bijaksana selalu
berbuat sesuai undang-undang sehingga terwujud keselarasan hidup bagi
masyarakat
2) Dapat mewujudkan sikap disiplin
Disiplin berarti berbuat sesuai aturan yang berlaku sehingga seseorang
yang bijaksana berarti telah bersikap disiplin
3) Dapat menegakkan sesuatu yang haq (benar) karena perilaku bijaksana
akan menimbulkan kebaikan dan kebaikan akan menghasilkan kebenaran
4) Dapat melaksanakan kewajiban, karena orang yang bijaksana selalu
mengutamakan pelaksanaan kewajiban
5) Dapat mewujudkan sikap adil, karena orang yang bijaksana secara otomatis
bersikap adil. Keduanya merupakan sifat yang saling berhubungan dan tidak
dapat dipisahkan.
c. Contoh sifat bijaksana
Masih ingatkah kalian peristiwa pemberian gelar “al-Amiin” kepada Nabi
Muhammad Saw.? Ketika Nabi Muhammad Saw. berumur 35 tahun telah terjadi
perombakan banguan Ka’bah oleh pemuka-pemuka quraisy. Namun dalam hal
meletakan hajar aswad ke tempat semula, terjadi perselisihan siapa yang lebih
berhak meletakan hajar aswad ke tempat semula tersebut. Sehingga terjadilah
pertikaian dan pertengkaran dalam persoalan ini.
Dalam keadaan demikian, datanglah Rasulullah Saw. dan memberikan ide
cemerlang. Nabi berkata, “Bagaimana kalau siapa yang lebih dahulu besok
pagi memasuki masjid ini maka dialah yang berhak meletakan Hajar Aswad itu
ketempat semula”. Para pemuka Quraisy menyepakati usulan Nabi tersebut.
Dan ternyata yang datang pertama kali ke masjid adalah Nabi Muhammad Saw. Berarti Nabi Muhammad Saw. yang berhak memindahkan Hajar Aswad tersebut ke tempat semula.
Untuk menghindari terjadi permusuhan diantara mereka, Nabi Muhammad
Saw. tidak mau memindahkan sendiri. Sebaliknya Nabi Muhammad Saw.
mengajak kepada semua pemuka kaum Quraisy itu untuk terlibat. Sehingga
Nabi membentangkan kain sorbannya yang berukuran empat persegi tersebut,
kemudian diletakan Hajar Aswad diatas serbannya dan disuruh oleh Nabi agar
empat orang pemuka Quraisy masing-masing memegang sudut serban dan
mengangkat secara bersama-sama ketempat semula dan setelah Hajar Aswad
berada di dekat tempatnya, barulah Nabi yang mengangkat dan meletakan
Hajar Aswad ditempat semula. Subhanallah, inilah contoh sikap bijaksana yang harus dicontoh oleh umat Islam. Karena dengan cara yang dilakukan oleh Nabi tersebut, para pemuka
Quraisy merasa ikut berjasa dan tidak ada yang merasa ditinggalkan sehingga
dapat terhindar dari sikap permusuhan diantara mereka. Akhirnya mereka
sepakat memberikan julukan kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai “al-

Amiin”, artinya orang yang jujur, benar dan bijaksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

video pembelajaran tematik

VIDEO PEMBELAJARAN TEMATIK  KELAS 2 Mari kita tonton video diatas